Senin, 09 November 2015

Mengingkari Kehendak Kita Sendiri

Mari kita maju menuju kedewasaan.

Ada sesuatu yang khusus oleh para imam di era Perjanjian Lama: mereka harus mempersembahkan kurban-kurban.Yesus pun telah mempersembahkan suatu kurban, karena Ia seorang imam. Namun bukan karena keturunan suku Lewi, Ia tidak dapat mempersembahkan kurban-kurban hewani seperti yang ditetapkan oleh Hukum Taurat. Maka imam Ia mempersembahkan kurban-Nya sendiri yang khusus, yaitu Doa.


Dalam hidupnya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dan ratap tangis dan keluhan kepada Dia [Allah Bapa], yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak,Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya. (Ibrani 5:7-8)

Karena Yesus begitu hormat dan taat kepada-Nya, Allah Bapa mendengarkan doa-doa yang dipanjatkan-Nya. Yesus belajar taat melalui penderitaan. Yesus pun harus belajar ketaatan. Dan demikian juga kita, umat Kristen, diharuskan belajar ketaatan dengan cara yang sama. Akhirnya ketaaatan itu kita dapatkan dengan sikap taat. Ketaatan tidak diperoleh dengan mendengar khotbah-khotbah mengenai ketaatan. Bial saja khotbah itu menolong kita, ketaatan itu harus kita praktikan, yaitu dengan bersikap ttaat, selangkah demi selangkah. Ketaatan mendatangkan penderitaan, karena itu kita harus dan mengingkari kendak/kemauan kita sendiri. Ada sebuah ungkapan Yesus yang menjadi kunci ketaatan-Nya; " Tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" ( Lukas 22:42). Setiap langkah kehidupan Kristiani adalah langkah penyangkalan diri. Yesus berkata: "Tiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus mau menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku" (Matius 16:24). Hal itu pasti menyakitkan, karena keakauan (ego)yang lama ini tidak senang untuk ditolak. sang ego berkata: " Aku mau itu, "Aku orang penting, "Aku lebih cocok begini, " Aku lebih senang begini " dan seterusnya. dengan menjadi pengikut Yesus, mau tidak mau sang ego harus mengalami penyangkalan secara terus-menerus.

Dalam perikop ayat dari surat Ibrani itu Tuhan mengatakan bahwa kita, putra-putra-Nya dan akan menjadi dewasa melalui ketaatan. Yesus yang menjadi contohnya. Allah membimbing Yesus kepada kedewasaan melalui ketaatan.Itulah jalan yang harus ditempuh oleh saudara dan saya. Inilah " jalan yang baru dan hidup " itu.

Tuhan Yesus Memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar